kampung bersih dan hijau

Kampunghijau di Jakarta ini merupakan karya warga setempat berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region (MOR) III. Sebagai kampung percontohan, di setiap sudut gang terdapat tempat sampah meyerupai kandang dengan ram kawat yang berisi aneka botol plastik bekas kemasan minuman, pelumas, pembersih lantai, sabun dll. WahanaNewsJakarta | Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengajak masyarakat khususnya yang tinggal di DKI Jakarta untuk beralih dari kompor liquefied petroleum gas (LPG) ke kompor induksi listrik. Peralihan ke kompor induksi ini diharap dapat mengurangi penggunaan energi berbasis impor. Baca Juga: Pertengahan 2022, PLN Sudah Salurkan 511.892 MWh Listrik Hijau Meskipunsulit mewujudkannya, kampung bersih dan bebas sampah bukan tidak ada. Salah satunya di Banyuwangi. Kampung Anggur yang berada di lingkungan Kelurahan Kalirejo, Kecamatan Kabat, Banyuwangi ini, pantas jadi contoh lingkungan yang bersih. Selainitu, perseroan mencatat net-interest margin di kisaran 4,7%, dan ditopang dari tingginya pencapaian non-interest income yang pada semester I tahun 2022 ini dapat mencapai Rp 7,6 triliun atau naik 11,0%.. Selama semester I 2022, BNI Xpora menyalurkan kredit senilai Rp 7,2 triliun. Bahkan hingga Juni 2022, penyaluran kredit kepada debitur Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM) yang Terbuktiwilayah nya bersih dan hijau, karena waga di sini sudah memanfaatkan pekarangan untuk menanam tanaman yang bernilai ekonomi. Sementara itu di Desa Kampung Sawah Kecamatan Rumpin warga terlihat guyub dan antusias menyambut kegiatan Bogor Kabupatenku Green And Clean. Warga mulai menata lingkungannya dengan baik dan bersih dengan penghijauan dan pengelolaan sampah yang baik dan benar. Weight Watchers Von Online Zu Treffen Wechseln. Kampung Gintung, Kota Malang, Jawa Timur, terkenal dengan kampung yang kumuh, langganan banjir dan bermasalah dengan sanitasi. Pada 2012, sang ketua RW, Bambang Irianto mengajak Sutiaji, Wali Kota Malang, menggerakkan warga agar peduli lingkungan. Pakar pengairan membantu Bambang. Sumur injeksi dan biopori mereka bangun. Ketua RW mewajibkan warga menanam dan bergotong rotong. Cibiran datang dari sebagian warga. Mereka yang tak mau ikut menanam dan gotong royong kena sanksi tak mendapatkan pelayanan seperti pengurusan surat menyurat. Air hujan berhasil mereka tabung. Mereka kaya air. Kala melihat manfaat, warga berbalik mendukung. Kini, kala hujan tak banjir, air bersih melimpah, bahkan sampai ke desa sebelah. Desa hijau dengan beragam tanaman hias dan sayur mayur, bahkan menjadi tujuan wisatawan, para peneliti dan lain-lain. Kala itu, Sutiaji, Wakil Wali Kota Malang, bersama warga membersihkan selokan dan saluran air di RW23 Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur. Kampung Glintung, biasa orang menyebut lokasi ini. Pada pertengahan 2013 itu, Sutiaji, berbaur bergotong-royong dengan warga, setelah banjir melanda. Kampung tak jauh dari pusat pemerintahan ini dikenal kumuh dan langganan banjir serta sanitasi buruk. Kini, Sutiaji, terpilih sebagai Wali Kota Malang, menggantikan Mochammad Anton. Bambang Irianto, sebagai Ketua RW23 pada 2012, mengajak Sutiaji, menggerakkan warga agar peduli lingkungan. Biasa, usai banjir, warga Kampung Glintung, harus bekerja ekstra mengepel dan membersihkan rumah dan bergotong royong membersihkan sungai mengatasi banjir. “Saya ikut bersama warga membersihkan sungai,” kata Sutiaji. Baca juga Menabung Air Hujan, Memanfaatkan saat Kemarau Banjir dampak saluran air makin lama makin menyempit. Perkampungan warga juga makin padat. Sejumlah bangunan berdiri di bantaran dan drainase jadi penyebab banjir. Sejak terpilih sebagai Ketua RW enam tahun lalu, Bambang memaparkan konsep membangun Glintung, menjadi kampung wisata. Termasuk konsep menabung air, untuk mengindari banjir yang mampir saban musim hujan. Saat itu, banyak yang mencibir dan menuding dia gila. Saat banjir, sandal dan sepatu warga juga hanyut ke selokan maupun sungai. Masalah itu timbul sejak puluhan tahun. “Kalau hujan alamat banjir. Air sampai sepaha orang dewasa,” kata Jaying, yang tinggal di Kampung Glintung sejak 1964. Membersihkan sungai, ternyata tak memberi dampak signifikan mengatasi banjir. Bambang menggandeng Profesor Muhammad Bisri, saat itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang. Bambang menceritakan, masalah banjir yang menghantui warga. Gayung bersambut. Bisri merancang sumur injeksi. Seluruh biaya ditanggung Universitas Brawijaya, sedangkan pengerjaan bergotong royong dengan warga. Tahap awal, warga bersama Bisri menentukan titik yang harus dibangun sumur injeksi. Pakar pengairan ini menghitung, seharusnya di Malang, terbangun ribuan sumur injeksi untuk mengendalikan banjir. Sebagai daerah dataran tinggi, banjir di Malang, terjadi karena permasalahan drainase. Air hujan tak bisa terserap langsung ke tanah, ruang terbuka hijau berkurang berganti bangunan. Air mengalir tak terarah, selokan dan drainase tak bisa menampung seluruh air hujan. Kondisi ini, katanya, menimbulkan banjir di titik tertentu. Menurut dia, sumur injeksi juga berfungsi menampung air tanah. Selama ini, air tanah disedot besar-besaran untuk kepentingan industri, perhotelan dan perumahan. Konstruksi sumur resapan berbeda dengan sumur injeksi,” katanya. Kalau sumur resapan berdiameter satu meter dengan kedalaman sekitar 5-6 meter. Sumur injeksi minimal 20-25 meter berdiameter sekitar enam meter. Lapisan bawah ditata batu dan kerikil. Saat ini, baru dibangun ada 30 sumur injeksi di Kota Malang. Salah satu di sekitar Masjid Jami’ Alun-alun Kota Malang. Konstruksi membangun satu sumur injeksi perlu dana sekitar Rp400 juta. Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Raymond Valiant Ruritan, baju putih bersama Bambang Irianto, Ketua RW23, berlatar tanaman hias. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Banjir hilang, muncul sumber air Menurut Bisri, pengambilan air bawah dengan sistem sumur artesis di Kota Malang, makin menjamur. Air tanah terus terkuras. Kalau dibiarkan tanpa diimbangi konservasi, bisa menyebabkan penurunan muka tanah land subsidence.”Perlu konservasi air, salah satu sumur injeksi,” katanya. Di Kampung Glintung, dibangun tujuh sumur injeksi. Ia menampung sekitar liter air. Kampung Glintung juga membangun biopori di sejumlah ruas jalan. Mereka membangun lubang biopori diameter 10-30 centimeter sedalam 80-100 centimeter. Lubang terbuat dari bekas kaleng cat hingga tak memerlukan modal. Di dalam biopori dimasukkan sampah organik hingga terjadi proses pengomposan. Air terserap tanah, kompos bisa untuk pupuk tanaman. Di kampung berpenduduk 480 keluarga ini memiliki 700 lubang biopori. Ia mampu menampung sekitar liter air. Mereka menamakan gerakan menabung air gemar atau Water Banking Movement. Awalnya tak mudah, kata Bambang, banyak penolakan. Warga sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik, pekerja swasta, dan wirausaha menolak iuran karena biaya besar. Bambang tak menyerah, dia berusaha mengubah pola pikir membangun permukiman kumuh dan tak sehat, menjadi kampung sejuk, indah dan sehat. Gerakan menabung air telah mendapatkan hasil, sumur warga tak pernah kering. Bahkan, menabung air dipanen warga RW5, terletak di sebelahnya, muncul sumber air di perkampungan itu. Sumber air keluar dari celah paving. Warga senang, namun ada yang was-was. Khawatir air keluar muncul di dalam rumah warga. Sejumlah pakar geologi meneliti fenomena ini guna memastikan sumber air muncul karena konservasi air di Kampung Glintung. Aneka tanaman hias dan bunga berjejer di dinding lorong masuk Kampung Glintung. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Taman dan pertanian tengah kota Setelah dibangun sumur injeksi, dia meminta warga menanam apa saja. Kalau warga menolak, tak akan dilayani saat mengurus administrasi. “Stempel RW jadi alat paksa,” kata Bambang. Lambat laun masyarakat sadar. Warga menggunakan kaleng bekas dan botol air mineral untuk pot bunga. Tanaman diambil dari tepi sungai. “Tanaman apa saja asal hijau.” Sebagian warga yang menolak juga mulai malu. Mereka menyadari, kalau kini kampung bersih, hijau dan segar. Mereka memanfaatkan barang bekas untuk menciptakan vertical garden maupun urban farming. Botol minuman, kaleng cat, kloset jongkong jadi pot bunga. Mereka tak harus modal besar untuk menciptakan kampung sejuk dan tenang. Saat masuk gang, pemandangan hijau mennyambut. Sebuah pergola berisi tanaman hias memanjakan mata. Vertical garden berisi aneka tanaman hias berjejer di dinding sepanjang gang. Bunga warna-warni jadi keindahan tersendiri saat menjejakkan kaki di Kampung Glintung yang belakangan terkenal dengan sebutan Kampung 3G Glintung Go Green. Bahkan dinding di gang sebagai area urban farming. Aneka jenis sayuran ditanam, warga memanen untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap sore, otomatis air mengalir menyirami tanaman. Betah berlama-lama. Malang, terasa lebih dingin dan menyenangkan. *** Zainul Arifin, warga RW23 Kelurahan Purwantoro, Blimbing, Kota Malang, berkutat dengan tumpukan batang dan plat besi. Dia tampak telaten mengelas, lalu menyambung dan merangkai jadi vertical garden. Zainul, salah satu warga Kampung Glintung. Mereka bergotong-royong menata taman, aneka bunga dan kebun sayur di perkampungan yang terletak di tengah Kota Malang ini. Vertical garden dikerjakan bersama-sama. Mereka menyumbang tenaga mewujudkan kampung hijau. Zainul bangga, bisa memberikan sumbangsih untuk kampung. Awalnya, dia termasuk warga yang enggan berbaur untuk kerja bakti dan gotong royong. Bambang mewajibkan, warga kerja bhakti menata kampung saban akhir pekan. Warga memeriksa dan merawat tanaman hias yang ditanam di depan rumah. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Awalnya Zainul, memilih tetap bekerja. Rutin saban hari dia keluar rumah berangkat pagi dan pula sore. Saat tetangga kerja bakti, dia menuntun motor keluar gang berangkat bekerja. Setahun kemudian anaknya lahir, dia memerlukan surat pegantar Ketua RW untuk mengurus akta kelahiran anak keduanya. Bambang menolak. Surat pengantar untuk akta kelahiran bakal diberikan setelah Zainul, bersedia ikut kerja bakti.“Baru saya sadar, dan ikut kerja bakti,” katanya. Kini, dia salah seorang warga paling aktif kerja bakti. Warga memberikan julukan “Iron Man” lantaran selalu berkutat dengan besi. Mengolah besi rongsokan menjadi keranjang tanaman maupun kerangka pot, misal, sepeda bekas, dia olah menjadi hiasan sekaligus kerangka pot bunga. Unik, menarik dan memiliki manfaat. Dia mengerjakan di sela-sela mengelas mulai matahari terbenam sampai matahari terbit. Zainul dengan warga sekitar rumah yang bekerja malam hari dikenal dengan sebutan “suku dalu” atau suku malam. Kini, mereka tulang punggung untuk mengerjakan aneka struktur berbahan besi guna menghijaukan Kampung Glintung. Termasuk melayani pemesanan dari sejumlah kampung di daerah lain yang ingin membuat vertical garden maupun urban farming. Kelompok tani, tak sekadar menanam tanaman konvensional. Mereka juga mengolah hasil pertanian. Mereka mengembangkan agro inovasi. Kini dibentuk badan hukum untuk kelompok tani ini. Mereka menanam sayuran dengan sistem hidroponik. Total tiga green house bantuan dari pemerintah untuk mengembangkan pertanian di perkotaan. Raymond Valiant Ruritan, Direktur Utama Perum Jasa Tirta I, berkeliling Kampung Glintung. Hasil pengamatan dan penelitian, sungai di kampung itu bisa menjadi pembangkit listrik tenaga mikrohidro. “Sungai kecil lahan terbatas. Kira-kira menghasilkan Watt,” katanya. Gerakan warga Kampung Glintung, merupakan kearifan lokal yang harus didukung. Perum Jasa Tirta I, salah satu BUMN operator Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo, akan memfasilitasi warga. Jasa Tirta, katanya, akan membiayai seluruh desain, perencanaan, konstruksi dan biaya lain. Listrik untuk kepentingan publik. Direktur Utama Perum Jasa Tirta 1, Raymond Valiant Ruritan baju putih bersama Bambang Irianto memeriksa sumur injeksi di Kampung Glintung. Foto Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Berwisata ke Kampung Glintung Kini, Kampung Glintung jadi obyek wisata. Wisatawan dari mancanegara dan domestik berdatangan. Mereka ingin belajar konservasi air, urban farming dengan memanfaatkan lahan sempit di perkotaan, penataan kampung dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Sampai saat ini, orang berkunjung ke Kampung Glintung. Untuk mengoptimalkan program itu, dibentuk pusat pelatihan dikelola dengan sistem manajemen moderen. Setiap rombongan antara 10-20 orang, berbayar Rp1,5 juta. Kalau rombongan kurang 10 orang biaya Rp 1 juta. Dalam sepekan, antara dua sampai tiga rombongan datang ke Kampung Glintung. Ada akademisi untuk penelitian, lembaga pemerintah, kelompok masyarakat, perusahaan swasta, dan pelatihan bertani bagi karyawan menjelang pensiun. Untuk penelitian juga kena biaya tertentu. Penelitian skripsi Rp1 juta, tesis Rp5 juta, dan disertasi Rp10 juta. Meski berbayar, banyak mahasiswa dan dosen penelitian di Glintung. “Kampung tak hanya jadi obyek penelitian. Mencari ilmu di kampung tetapi berbayar,” kata Bambang. Dibangun sebuah pendapa untuk proses pelatihan. Pelatihan juga menguntungkan warga yang menyediakan homestay untuk para tamu dan makanan. Pedagang makanan dan minuman juga diuntungkan. Perekonomian warga berkembang. Seluruh hasil usaha terkumpul masuk ke kas RW. Hasilnya, kas RW mencapai ratusan juta. Sekretaris Eksekutif Training Center Glintung, Soetopo mengatakan, untuk memperkuat ekonomi masyarakat juga dibangun koperasi. Kini, aset dan uang berputar di koperasi mencapai Rp400 juta. Sebanyak 200 anggota memanfaatkan dana koperasi untuk simpan pinjam. Atas terobosan ini, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, meresmikan kampung konservasi Glintung Go Green 3G. Tjahjo membubuhkan tanda tangan di atas prasasti sebagai bentuk peresmian kampung korservasi di kawasan perkotaan itu. Kampung Glintung juga masuk nominasi lima besar dalam Guangzhou International Award for Urban Innovation 2016. Bambang juga mendapat kalpataru dan penghargaan sebagai 72 ikon berprestasi Indonesia yang diberikan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila sekarang bernama Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. “Sejak 2012, ada peraturan daerah tentang bangunan. Isinya, mewajibkan pengembang membangun sumur resapan,” kata Sutiaji. Lantaran perumahan sudah mengurangi ruang terbuka hijau. Air tak terserap tanah, tetapi menggenang menyebabkan banjir. Bagi yang tak bikin sumur resapan kena sanksi administrasi sesuai kesalahan. Sanksi terberat, pemerintah mengeluarkan catatan hitam bagi pengembang dan tak bisa mengajukan izin membangun perumahan di Kota Malang. “Administratif saja, sanksi belum diterapkan. Sudah disampaikan ke pengembang,” kata Sutiaji. Keterangan foto utama Aneka tanaman hias dan bunga berjejer di dinding lorong masuk Kampung Glintung. Eko Widianto/ Mongabay Indonesia Artikel yang diterbitkan oleh Kampung tongkol di tepian sungai Ciliwung kini berubah menjadi lokasi yang bersih dan hijau. Tanaman hijau dimana-mana, sampah tidak dibuang sembarangan. Kampung ini sebenarnya sudah akan digusur, tapi warga dengan bantuan lembaga swadaya Urban Poor Consortium UPC berusaha melakukan negosiasi dengan Pemerintahan Provinsi Pemprov DKI. "Kami ingin membuktikan bahwa orang miskin dapat membawa perubahan, perubahan di lingkungan mereka," kata Gugun Muhammad, warga Kampung Tongkol dan salah satu fasilitator dalam prakarsa kampung hijau. Upaya membersihkan kampung termasuk menyingkirkan tumpukan sampah di tepi sungai Ciliwung dengan rakit, memasang tempat-tempat sampah di sekitar kampung dan tanda-tanda untuk mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan. Tahun 2015, Kampung Tongkol sedianya akan digusur untuk program normalisasi Ciliwung. Namun setelah perundingan, disepakati bahwa warga akan memotong rumahnya hingga jarak 5 meter dari tepi Kampung Tongkol ingin hindari penggusuran dengan isu ramah lingkunganFoto Getty Images/AFP/B. Ismoyo Warga kampung lalu memotong rumah mereka. Bahkan ada rumah yang harus dibongkar seluruhnya, karena terlalu dekat ke sungai. Rumah-rumah warga sekarang berukuran mungil. Mereka mengecat rumahnya dengan warna hijau, kuning dan biru. Dalam kotak-kotak yang dibuat khusus, ditanam berbagai buah dan sayuran. Warga juga mulai membuat pupuk kompos dari sampah organik. Ada sekitar 260 keluarga yang tinggal di sini. Tapi beberapa bulan lalu, Pemprov DKI berubah pikiran. Mereka menuntut lahan bebas 15 meter dari tepi sungai. Warga akhirnya membongkar lagi sebagian rumahnya. Tapi mereka tetap ingin bertahan di Kampung Tongkol. Sekarang, tumpukan sampah yang pernah berjajar di tepi sungai sudah tidak ada. Juga banjir yang biasanya selalu datang pada musim hujan, sekarang makin jarang. "Saya tidak mengatakan ini sudah berhasil, tapi kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya," kata Muhammad, Gugun Muhammad, yang bekerja untuk Tongkol ingin jadi model kampung ramah lingkunganFoto Getty Images/AFP/B. Ismoyo Tahun 2015, UPC mengucurkan bantuan dana Rp. 160 juta untuk pembangunan lima unit rumah contoh. Rumah contoh dibangun tiga lantai dengan lebar lima meter, untuk mengantisipasi lahan yang makin sempit. Selama dua tahun terakhir, penggusuran karena kepentingan pembangunan memang makin gencar. Sungai-sungai harus dinormalisasi sebagai upaya untuk mencegah banjir. LBH Jakarta memperkirakan, lebih dari keluarga terpaksa mengungsi tahun 2015, atau pindah ke rumah susun yang disediakan pemerintah. Kampung Tongkol berusaha berbenah diri. Warga belajar mengurangi sampah atau melakukan daur ulang. Dimulai dengan cara-cara sederhana, misalnya menggunakan tas kain untuk berbelanja. Namun hingga kini, status Kampung Tongkol masih belum jelas. Penggusuran masih tetap mengancam. Apalagi, Pemprov DKI sudah mempersiapkan rumah susun yang masih kosong sebagai penggantinya. Gugun Muhammad mengatakan, warga berusaha melaksanakan kegiatannya sehari-hari tanpa fokus pada ancaman penggusuran. hp/ afp Editor Satmoko Budi Santoso Suasana kampung hijau di wilayah Sesetan Kecamatan Denpasar Sultan Anshori. DENPASAR – Pemerintah Kota Denpasar terus berinovasi untuk menciptakan Denpasar aman, nyaman, bersih, dan sejuk. Kelurahan Sesetan membuat terobosan dengan program Kampung Hijau di wilayah Sesetan, Kecamatan Denpasar Selatan. Lurah Sesetan, Ketut Sri Karyawati, mengatakan, program ini dibuat untuk menciptakan kampung bersih, sehat, dan sejuk. Program baru dibuat awal Agustus 2018, bisa sukses terlaksana. Hal itu tentunya atas partisipasi warga masyarakat dan beberapa perusahan yang ada di wilayah Sesetan melalui program Corporate Social Responsibility CSR. Kampung hijau yang diprogramkan menurutnya belum semua desa diterapkan karena pengerjaan baru dimulai awal bulan Agustus. Lurah Sesetan Ketut Sri Sultan Anshori. “Pengerjaan dilakukan secara bertahap, maka kami mohon partisipasi, dukungan semua masyarakat,” ucap Ketut Sri Karyawati, Rabu 26/9/2018. Menurut Ketut Sri Karyawati lagi, sejak dari sebulan dikerjakan yang telah berhasil tertata menjadi kampung hijau adalah di Lingkungan Karya Dharma dan Lingkungan Pembuangan. Tidak menutup kemungkinan, sejak ditata menjadi kampung hijau, ada orang yang tidak bertanggung jawab dengan mengambil pot tanaman dan memecahkan pot tanaman. “Mengantisipasi kejadian tersebut tidak terulang, ia akan berkoordinasi dengan Kepala Lingkungan serta masyarakat setempat agar ikut menjaga lingkungan,” tegasnya. Ia juga mengimbau agar masyarakat yang rumahnya dekat dengan lokasi tersebut memasang CCTV. Berhubung lokasi dekat sekolah, pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada kepala sekolah agar siswa ikut serta menjaga dan tidak usil. Dengan dilaksanakan program ini, Sri mengaku, masyarakat bisa melihat hasilnya, yakni terlihat rindang, bersih, hijau, seperti suasana desa yang alami. SELANJUTNYA 1 2 Warga Kampung Hijau Berseri membersihkan wilayah tempat tinggal mereka. - Suasana hijau terlihat di setiap rumah di Kampung Hijau Berseri RT 10 dan 11 RW 03, Kelurahan Cempaka Putih Timur. Pasalnya, mereka menanam beberapa tumbuhan di sana. Selain itu, pergola besi dengan tanaman rambat juga semakin menambah keasrian wilayah tersebut. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun memberikan apresiasi kepada Kampung Hijau Berseri, saat merayakan Hari Peduli Sampah Nasional HPSN 2020 di wilayah tersebut. Anies berinteraksi langsung dengan warga yang mengelola sampah sendiri, sebelum sisa sampah tak terproses dibuang ke Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu TPST. “Kami sangat mengapresiasi langkah masyarakat yang telah mengelola sampah di lingkungan masing-masing. Harus kita bangun perubahan mindset. Dalam semua kegiatan ada yang kita ambil gunakan, ada yang sisa atau residu. Mari bersama kita kurangi, pilah, olah sampah di sekitar kita" kata Anies dalam sambutannya. Kampung Hijau Berseri juga dinobatkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai RW percontohan yang telah mengurangi sampah dari tingkat rumah tangga melalui program yang digulirkan Pemprov, yakni SAMTAMA atau Sampah Tanggung Jawab Bersama. Kampung hijau di Jakarta ini merupakan karya warga setempat berkolaborasi dengan PT Pertamina Persero melalui Marketing Operation Region MOR III. Sebagai kampung percontohan, di setiap sudut gang terdapat tempat sampah meyerupai kandang dengan ram kawat yang berisi aneka botol plastik bekas kemasan minuman, pelumas, pembersih lantai, sabun dll. Tempat tersebut merupakan penampungan sementara kegiatan shodaqoh plastik bagi warga yang telah memilah sampah plastik rumah tangga. Seminggu sekali, warga memilah botol dengan memisahkan tutup, mengelupas plastik merek kemasan, dan di tekan dengan tangan untuk selanjutnya dikumpulkan dalam karung besar kemudian diambil pengumpul limbah plastik. Menurut Dedy, Ketua RT 11, kegiatan tersebut rutin dilakukan oleh warga yang sudah beberapa tahun belakangan ini sadar memilah sampah dari rumah. “Masing-masing RT ada kelompoknya, nanti uang hasil penjualan digunakan untuk kegiatan sosial warga. Konsepnya bukan bank sampah, tetapi menyumbang atau shodaqoh sampah agar warga merasa berkontribusi untuk penghijauan dan juga pengelolaan lingkungan kampung hijau dengan sampah,” jelas Dedy. Selain sampah plastik, sampah rumah organik juga dipisahkan untuk diolah menjadi kompos menggunakan komposter. Ada juga pengolahan sampah organik menjadi kompos dengan memanfaatkan larva lalat jenis Black Soldier Fly, dikenal dengan metode maggot. Kompos digunakan untuk pupuk tanaman milik warga. “Program ini merupakan bagian dari program Bina Lingkungan Pertamina yang bekelanjutan, serta dukungan kami terhadap upaya-upaya pengelolaan sampah rumah tangga yang telah dilakukan warga. Tentunya dapat menambah asri kampung, serta yang utama sebagai sarana edukasi bagi warga lain yang mengunjungi Kampung Hijau Berseri sebagai kampung percontohan”, pungkas Dewi Sri Utami selaku Unit Manager Communication & CSR - MOR III. Pertamina berharap, dengan adanya kampanye pengelolaan sampah yang dilakukan warga melalui mural, dapat mendukung penyebaran upaya positif kelompok masyarakat yang layak diapresiasi dan dicontoh dalam mengelola sampah yang diawali dari masing-masing rumah tangga. PROMOTED CONTENT Video Pilihan BOGOR - Kota Bogor masuk menjadi salah satu dari lima kota di Indonesia yang paling peduli terhadap perubahan iklim. Lima kota tersebut, yakni Semarang, Surabaya, Kota Bogor, Kota Bandung, dan Kota Tangerang. Ini merupakan hasil riset yang belum lama dirilis Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas Institut Teknologi Bandung ITB tentang Rating Transformasi Digital dan Kota Cerdas Indonesia 2021. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DLH Kota Bogor, Deni Wismanto, mengatakan, di Kota Bogor sendiri ada beberapa program peduli terhadap perubahan iklim. “Program-program ini merupakan program Pemerintah Kota Pemkot Bogor secara komprehensif dan melibatkan beberapa instansi,” kata Deni, Senin 14/2. Deni menyebutkan, beberapa program tersebut antara lain, Program Bogor Lancar beruparerouting dan shifting transportasi publik, angkot berbahan bakar gas. Program Bogor Merenah, yakni pembangunan jalur pedestrian dan jalur sepeda, program kampung bersih dan hijau/lomba kebersihan, program benah kampung, program kampung iklim. Lalu, Program Bogor Tanpa Plastik Botak, Program TPS3R dan bank sampah, Program Sekolah Adiwiyata, dan Sekolah Berbudaya Lingkungan. Terpisah, Ketua Pusat Inovasi Kota dan Komunitas Cerdas ITB, Suhono Harso Supangkat, menjelaskan, penilaian pada kategori peduli iklim ini, dilakukan secara khusus untuk mengetahui dukungan kota dalam menghadapi permasalahan perubahan iklim. Perubahan iklim ini berdampak pada panasnya permukaan bumi yang berasal dari peningkatan kadar CO2 atau karbon dioksida. Suhono menyebutkan, indikator yang menjadi tolok ukur riset antara lain dukungan penggunaan energi terbarukan, meminimalisasi kendaraan, dan pengelolaan lingkungan. Selain itu, dia mengatakan, riset juga menilik soal substitusi energi, implementasi kendaraan hemat energi, penggunaan kendaraan umum, penambahan ruang terbuka hijau. “Tolok ukur itu semua digunakan untuk melihat seberapa jauh suatu kota dapat mengelola berbagai sumber daya secara efektif dan efisien, menyelesaikan berbagai masalah, serta memberikan layanan yang dapat meningkatkan kualitas hidup warganya,” ujarnya. Ekonomi hijau Kantor Perwakilan Bank Indonesia KPw BI Purwokerto mendukung upaya pengembangan ekonomi hijau green economy di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah."Potensi ekonomi hijau di setiap daerah pasti besar," kata Kepala KPw BI Purwokerto Rony Hartawan seusai menghadiri puncak peringatan Hari Pers Nasional HPN 2022 dan Hari Ulang Tahun Ke-76 Persatuan Wartawan Indonesia Tingkat Kabupaten Banyumas di Baturraden Adventure Forest, Banyumas. Bank Indonesia akan sangat concern dengan peningkatan kapabilitas karena pengalaman. "Ini bukan isu bantuan dalam konteks finansial, tapi bagaimana meningkatkan paradigmanya dulu, mindset dari masyarakatnya," katanya. Jika masyarakatnya sudah mau mengonsumsi pangan organik secara otomatis akan banyak produsen yang mengembangkan pertanian organik. Pola pikir masyarakat yang ingin sehat dengan mengonsumsi pangan organik itu yang akan ditumbuhkan oleh BI. "Jadi, rencananya seperti itu, paralel, bagaimana juga mengembangkan pertanian digital misalkan, digital farming. Sehingga nanti bagaimana perkembangan pertanian itu bisa tidak hanya untuk kebutuhan lokal, bisa juga untuk ekspor," katanya. Secara kebetulan saat sekarang sedang Presidensi G20 Indonesia 2022, sehingga banyak kesempatan untuk mengembangkan ekonomi hijau dan itu sudah menjadi keniscayaan. "Kita harus kembangkan ke situ. Kalau enggak, nanti kita ketinggalan, enggak punya pasar untuk memasarkan produk-produk itu ekonomi hijau, red. karena pasar global mintanya barang-barang produksi yang dari green economy," katanya. Bahkan, wisata yang berkaitan dengan hutan atau alam juga merupakan bagian dari ekonomi hijau. Sementara itu saat memberi sambutan dalam acara puncak peringatan HPN 2022 dan HUT Ke-76 PWI Tingkat Kabupaten Banyumas, Rony mengatakan saat sekarang perubahan iklim sudah menjadi keniscayaan. Selain itu, masalah ekonomi hijau yang berkaitan dengan perubahan iklim sebenarnya sudah dibicarakan sejak dahulu. "Cuma yang namanya manusia, kadang-kadang baru mau bergerak kalau ada kasus. Kita pindah ke transformasi digital gara-gara pandemi. Apakah kita mau bergerak setelah terjadi pemanasan global, terjadi kelangkaan sumber daya, baru mau bergerak," katanya. Oleh karena itu, Bank Indonesia bersama pemerintah lebih serius memikirkan ekonomi hijau. Terkait dengan hal itu, dia mengatakan dalam Presidensi G20 Indonesia 2022 dibicarakan tentang bagaimana ekonomi hijau berjalan. "Ekonomi hijau enggak sembarangan karena nanti negara-negara itu yang menjadi tempat kita ekspor tidak mau lagi terima kalau produknya dari hasil bahan bakar fosil, maunya dari bahan bakar yang green, sehingga otomatis ini terkait dengan perekonomian," katanya. Rony mengatakan jika ekonomi hijau sudah dilaksanakan sampai tahun 2030 diprediksi bisa meningkatkan penyerapan tenaga kerja hingga 27,9 persen, kemudian penekanan karbondioksida bisa sampai 72 persen, dan ekspor hasil-hasil hutan bisa naik di atas 30 persen. "Jadi, ekonomi hijau ini bicara konkret, bicara tentang bagaimana pemberdayaan masyarakat, bagaimana perekonomian tumbuh," katanya menegaskan. Puncak peringatan HPN 2022 dan HUT Ke-76 PWI Tingkat Kabupaten Banyumas yang didukung Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto dan PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah itu diisi dengan penanaman tumbuhan kantong semar Nephentes adrianii endemik Gunung Slamet serta diskusi konservasi yang mengusung tema "Mendukung Pertumbuhan Ekonomi Hijau Banyumas yang Kuat, Berkelanjutan, Seimbang, dan Inklusif".

kampung bersih dan hijau